Vibecoding = Percaya Diri Dan Lebih Produktif

Wah akhirnya gagal untuk rutin upload tulisan setiap Sabtu atau Minggu. Kemaren cukup hectic dari mulai mudik ke kampung halaman, tiba-tiba ngantar anak ke Playground dan tiba-tiba Google Meet dengan teman-teman Komunitas Dividen Investing ID.

Tapi untungnya di Senin ini tetap bisa menulis.

Saya ingin cerita tentang vibecoding namun saya akan cerita dulu terkait aplikasi/sistem informasi.

Saya sangat hobi membuat sistem informasi entah itu aplikasi atau web based dari mulai sistem informasi untuk

  1. upload hasil foto handphone
  2. chat dengan dokter dengan web based
  3. chat dengan dokter versi aplikasi
  4. rekam medis klinik gigi
  5. upload dokumen-dokumen pribadi agar lebih tertata
  6. upload dokumen dosen untuk memudahkan saat akreditasi
  7. sampe yang terakhir ini adalah rumah untuk dividen investor

Kabar buruknya adalah ketujuhnya di atas harus menarik teman developer untuk membuatnya sehingga secara bisnis saya harus selalu mengeluarkan modal. Jadi saya yang merancang dan temen yang mengerjakan.

Bagi saya yang gaji pas-pasan tentu biayanya menjadi sangat mahal. Mungkin bisa habis sampe 100juta lebih kalo ditotal.

Tapi entah apa yang merasuki..tiba-tiba saya bisa membuat dashboard atau aplikasi atau sistem informasi hanya bermodal wordpress dan chatgpt dan hasilnya eng ing eng aplikasi/web Porto DIVI ID.

Bahkan sistem infotmasi ini bisa memunculkan icon yang membuat saya bangga seperti terlihat di bawah ini

Porto DIVI ID

Saya benar-benar amaze kalo saya bisa sejauh ini membuat sistem informasi.

Yang dulu kayaknya enggak mungkin sekarang mungkin dan saya makin PERCAYA DIRI bisa eksekusi sistem informasi lainnya.

Katanya konsep seperti ini namanya Vibecoding.

Vibe coding adalah gaya pemrograman di mana seseorang membuat aplikasi atau sistem dengan memberikan perintah menggunakan bahasa sehari-hari (bahasa alami) kepada kecerdasan buatan (AI), alih-arof menulis baris kode sintaks secara manual. [1, 2]

Istilah ini dipopulerkan oleh peneliti AI [Andrej Karpathy] pada awal tahun 2025. Dalam pendekatan ini, peran manusia bergeser dari seorang implementor (penulis kode) menjadi seorang arsitek, pengarah, atau navigator yang membimbing AI untuk membuat, menyempurnakan, dan memperbaiki (debugging) kode.

Apapun itu ternyata memang membuat percaya diri.

Tapi banyak yang bilang kelemahan vibecoding adalah membanjirnya sistem informasi baru yang dibuat orang-orang yang lagi amaze kayak saya dan nyatanya di Threads banyak sekali yang tiba-tiba membuat aplikasi pencatatan keuangan dan sebagainya.

Hmmmmm…untung saya punya solusinya yaitu kombinasi dari branding, marketing dan customer segmented.

Bantul

Senin, 05 Oktober 2026

05:49

Rumah